'Mobil Murah
Membuat Kota Besar Tambah Macet'
REPUBLIKA.CO.ID,
JAKARTA — Kebijakan mobil murah ramah lingkungan atau low cost green car (LCGC)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kebijakan mobil murah ramah lingkungan atau low cost green car (LCGC) yang
diluncurkan pemerintah diperkirakan bakal menimbulkan berbagai masalah baru di
masa datang. Di antaranya adalah semakin buruknya kondisi lalu lintas jalan
raya di kota-kota besar. “Pemerintah seharusnya memprioritaskan pembangunan
infrastruktur sebelum mengeluarkan regulasi itu. Apalagi, akses jalan saat ini
sebenarnya belum lagi siap untuk dibanjiri mobil-mobil murah,” kata pengamat
industri otomotif Suhari Sargo, saat dihubungi, Ahad (22/9).
Ia menuturkan, rasio panjang jalan dengan jumlah penduduk di Indonesia saat ini hanya 160 km per juta penduduk. Angka ini menurutnya masih kalah dibandingkan dengan negara yang luas wilayahnya lebih kecil dari negeri ini. Sebut saja Thailand (800 km per juta penduduk), Korea (1.000 km per juta penduduk), dan Jepang (hampir 9.000 km per juta penduduk).
Menurutnya, yang paling merasakan dampak negatif dari kebijakan ini nantinya adalah masyarakat di kota-kota besar, terutama yang ada di Jawa. Hal ini dikarenakan lebih dari separuh penduduk Indonesia berada di pulau ini.
Karena itu, kata Suhari, pemerintah harus mengimbangi kebijakan ini dengan pembangunan akses jalan yang memadai. Bila tidak, maka masalah kemacetan seperti yang ada di Jakarta semakin sulit untuk ditangani. “Sekarang saja kita sudah dibuat stress oleh kondisi lalu lintas di Ibu Kota, apalagi nanti,” imbuhnya.
Ia menuturkan, rasio panjang jalan dengan jumlah penduduk di Indonesia saat ini hanya 160 km per juta penduduk. Angka ini menurutnya masih kalah dibandingkan dengan negara yang luas wilayahnya lebih kecil dari negeri ini. Sebut saja Thailand (800 km per juta penduduk), Korea (1.000 km per juta penduduk), dan Jepang (hampir 9.000 km per juta penduduk).
Menurutnya, yang paling merasakan dampak negatif dari kebijakan ini nantinya adalah masyarakat di kota-kota besar, terutama yang ada di Jawa. Hal ini dikarenakan lebih dari separuh penduduk Indonesia berada di pulau ini.
Karena itu, kata Suhari, pemerintah harus mengimbangi kebijakan ini dengan pembangunan akses jalan yang memadai. Bila tidak, maka masalah kemacetan seperti yang ada di Jakarta semakin sulit untuk ditangani. “Sekarang saja kita sudah dibuat stress oleh kondisi lalu lintas di Ibu Kota, apalagi nanti,” imbuhnya.
Tanggapan Saya : 1. Menurut saya harga mobil yang
murah tidak sesuai yang dikatakan benar-benar murah, masih diatas Rp. 80,000,000 alias masih 6-8 x lipat
dari harga motor, betulkah jika masyarakat bawah yang akan membeli atau
masyarakat menengah atas yang membeli untuk menambah koleksi moda
transportasinya .
2.
Pendapat saya yang kedua adalah jika memang mobil ini untuk masyarakat menengah asti akan banyak peminatnya ,jika
banyak peminatnya itu menyebabkan bertambahnya pengguna jalan roda empat ,itu
berarti salah satu factor yang akan menyebabkan kemacetan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar